A little girl needs Daddy
For many, many things:
Like holding her high off the ground
Where the sunlight sings!
Like being the deep music
That tells her all is right
When she awakens frantic with
The terrors of the night.
A little girl needs Daddy
For many, many things:
Like holding her high off the ground
Where the sunlight sings!
Like being the deep music
That tells her all is right
When she awakens frantic with
The terrors of the night.
Like being the great mountain
That rises in her heart
And shows her how she might get home
When all else falls apart.
Like giving her the love
That is her sea and air,
So diving deep or soaring high
She'll always find him there.
Author Unknown
Jumat, 06 Februari 2009
Selasa, 30 Desember 2008
HATI-HATI SAAT ANAK NAIK ESKALATOR
Sekali lagi, ini cerita yang sudah sering terdengar, tp tetap aja terjadi.
Dan kali ini, menimpa anakku sendiri. Sebelumnya, saat mendengar atau
membaca cerita tentang kaki anak yang tercepit eskalator, tidak sekali
pun terlintas di pikiranku, kalo hal itu akan terjadi pada anakku.
Pertama, karena anakku sudah berumur hampir 7 tahun, dan sudah mengenal
eskalator sejak dari kecil, sudah biasa lari naik turun mainan di eskalator.
Ternyata semua itu bukan merupakan jaminan, bahwa kita tetap harus hati-hati
menjaga anak-anak kita.
Sekali lagi, ini cerita yang sudah sering terdengar, tp tetap aja terjadi.
Dan kali ini, menimpa anakku sendiri. Sebelumnya, saat mendengar atau
membaca cerita tentang kaki anak yang tercepit eskalator, tidak sekali
pun terlintas di pikiranku, kalo hal itu akan terjadi pada anakku.
Pertama, karena anakku sudah berumur hampir 7 tahun, dan sudah mengenal
eskalator sejak dari kecil, sudah biasa lari naik turun mainan di eskalator.
Ternyata semua itu bukan merupakan jaminan, bahwa kita tetap harus hati-hati
menjaga anak-anak kita.
Kejadiannya terjadi pada hari Sabtu, tanggal 27 Desember 2008. Aku dan
2 orang anakku pergi jalan-jalan di Delta (Plaza Surabaya). Disana,
sehabis mencari baju untuk anak-anakku di Matahari lantai 4, kami turun
ke lantai 3 melewati eskalator milik Matahari sendiri, yang berada di
dalam area mereka.Karena barang yang aku cari tidak ada, aku memutuskan
untuk naik lagi ke lantai 4, melewati eskalator yang sama. Saat itu
suasana lagi sepi, persis saat kami sudah tiba di lantai atas...tiba-tiba
saja anakku yang kedua yang sedang berjalan di sisiku dengan bergandengan
tangan berteriak ketakutan "mamiiiii...mamiiiii..."
Aku terkejut sekali, lebih shock lagi saat melihat ke bawah, sepatu yang
dipakainya sudah dalam posisi terjepit di gigi eskalator. Dengan panik
aku menarik-narik badan anakku...tetap tidak bergerak...:( Sementara para
pegawai dan pengunjung lainnya mulai menyerbu di sekeliling eskalator
mendengar teriakan anakku. Aku benar-benar panik karena tidak berhasil
menarik kaki anakku. Pikiran buruk sudah berputar-putar di kepalaku.
Aku rasanya hampir lumpuh ketakutan membayangkan jari-jari mungil anakku
putus atau remuk terjepit gerigi eskalator :'(
Untunglah, salah seorang pengunjung berteriak ke aku.."bu...lepaskan
sepatunya...lepaskan sepatunya"
aku segera tersadar...aku angkat badan anakku, dan aku tarik kuat-kuat
sehingga kakinya terlepas dari sepatunya....syukurlahhhh...Tuhan masih
melindungi anakku, kakinya tidak mengalami luka yang berarti...
ini benar-benar pelajaran yang berharga buat aku.
Sekali lagi, buat para orang tua...hati-hati jagalah anak-anak kalian
waktu naik eskalator.
Dan kali ini, menimpa anakku sendiri. Sebelumnya, saat mendengar atau
membaca cerita tentang kaki anak yang tercepit eskalator, tidak sekali
pun terlintas di pikiranku, kalo hal itu akan terjadi pada anakku.
Pertama, karena anakku sudah berumur hampir 7 tahun, dan sudah mengenal
eskalator sejak dari kecil, sudah biasa lari naik turun mainan di eskalator.
Ternyata semua itu bukan merupakan jaminan, bahwa kita tetap harus hati-hati
menjaga anak-anak kita.
Sekali lagi, ini cerita yang sudah sering terdengar, tp tetap aja terjadi.
Dan kali ini, menimpa anakku sendiri. Sebelumnya, saat mendengar atau
membaca cerita tentang kaki anak yang tercepit eskalator, tidak sekali
pun terlintas di pikiranku, kalo hal itu akan terjadi pada anakku.
Pertama, karena anakku sudah berumur hampir 7 tahun, dan sudah mengenal
eskalator sejak dari kecil, sudah biasa lari naik turun mainan di eskalator.
Ternyata semua itu bukan merupakan jaminan, bahwa kita tetap harus hati-hati
menjaga anak-anak kita.
Kejadiannya terjadi pada hari Sabtu, tanggal 27 Desember 2008. Aku dan
2 orang anakku pergi jalan-jalan di Delta (Plaza Surabaya). Disana,
sehabis mencari baju untuk anak-anakku di Matahari lantai 4, kami turun
ke lantai 3 melewati eskalator milik Matahari sendiri, yang berada di
dalam area mereka.Karena barang yang aku cari tidak ada, aku memutuskan
untuk naik lagi ke lantai 4, melewati eskalator yang sama. Saat itu
suasana lagi sepi, persis saat kami sudah tiba di lantai atas...tiba-tiba
saja anakku yang kedua yang sedang berjalan di sisiku dengan bergandengan
tangan berteriak ketakutan "mamiiiii...mamiiiii..."
Aku terkejut sekali, lebih shock lagi saat melihat ke bawah, sepatu yang
dipakainya sudah dalam posisi terjepit di gigi eskalator. Dengan panik
aku menarik-narik badan anakku...tetap tidak bergerak...:( Sementara para
pegawai dan pengunjung lainnya mulai menyerbu di sekeliling eskalator
mendengar teriakan anakku. Aku benar-benar panik karena tidak berhasil
menarik kaki anakku. Pikiran buruk sudah berputar-putar di kepalaku.
Aku rasanya hampir lumpuh ketakutan membayangkan jari-jari mungil anakku
putus atau remuk terjepit gerigi eskalator :'(
Untunglah, salah seorang pengunjung berteriak ke aku.."bu...lepaskan
sepatunya...lepaskan sepatunya"
aku segera tersadar...aku angkat badan anakku, dan aku tarik kuat-kuat
sehingga kakinya terlepas dari sepatunya....syukurlahhhh...Tuhan masih
melindungi anakku, kakinya tidak mengalami luka yang berarti...
ini benar-benar pelajaran yang berharga buat aku.
Sekali lagi, buat para orang tua...hati-hati jagalah anak-anak kalian
waktu naik eskalator.
Jumat, 19 Desember 2008
PETRO GRESIK tingkatkan pelatihannya.
Perkumpulan Renang Petrokimia Gresik, melakukan gebrakan yang jarang
terjadi di perkumpulan renang di Jatim. Mereka mengontrak ex pelatih
renang Puslatda Jatim untuk PON XVII Kaltim yaitu Mr. Wang Chai.
Perkumpulan Renang Petrokimia Gresik, melakukan gebrakan yang jarang
terjadi di perkumpulan renang di Jatim. Mereka mengontrak ex pelatih
renang Puslatda Jatim untuk PON XVII Kaltim yaitu Mr. Wang Chai.
Rumor yang beredar di antara perkumpulan renang di Jatim mengatakan
bahwa Petrokimia Gresik berkeinginan untuk menumbangkan dominasi
Club Hiu yang selama ini selalu menjadi club terbaik di Jatim. Namun
pihak Petro menampik hal tersebut, dan mengatakan bahwa tujuan mereka
mengontrak Mr. Wang Chai selama 4 tahun adalah keinginan untuk mema
jukan dunia renang Jatim, dan agar bisa menyumbang atlit renang Jatim
untuk PON XVIII Riau.
Terlepas dari alasan apapun, apa yang dilakukan PR Petrokimia Gresik
patut diacungi jempol. Selama ini yang fokus olahraga di Indonesia
pada umumnya dan di Jatim pada khususnya, lebih banyak ke olahraga
basket, bulutangkis, maupun sepakbola. Semoga dengan gebrakan yang
dilakukan oleh Petrokimia bisa memperbaiki citra olahraga renang di
Jatim. Apalagi seandainya atlit renang Indonesia ataupun Jatim bisa
memperoleh emas di Olympiade, pasti akan mengangkat citra olahraga ini
di tengah keterpurukan prestasi olahraga Indonesia di dunia.
terjadi di perkumpulan renang di Jatim. Mereka mengontrak ex pelatih
renang Puslatda Jatim untuk PON XVII Kaltim yaitu Mr. Wang Chai.
Perkumpulan Renang Petrokimia Gresik, melakukan gebrakan yang jarang
terjadi di perkumpulan renang di Jatim. Mereka mengontrak ex pelatih
renang Puslatda Jatim untuk PON XVII Kaltim yaitu Mr. Wang Chai.
Rumor yang beredar di antara perkumpulan renang di Jatim mengatakan
bahwa Petrokimia Gresik berkeinginan untuk menumbangkan dominasi
Club Hiu yang selama ini selalu menjadi club terbaik di Jatim. Namun
pihak Petro menampik hal tersebut, dan mengatakan bahwa tujuan mereka
mengontrak Mr. Wang Chai selama 4 tahun adalah keinginan untuk mema
jukan dunia renang Jatim, dan agar bisa menyumbang atlit renang Jatim
untuk PON XVIII Riau.
Terlepas dari alasan apapun, apa yang dilakukan PR Petrokimia Gresik
patut diacungi jempol. Selama ini yang fokus olahraga di Indonesia
pada umumnya dan di Jatim pada khususnya, lebih banyak ke olahraga
basket, bulutangkis, maupun sepakbola. Semoga dengan gebrakan yang
dilakukan oleh Petrokimia bisa memperbaiki citra olahraga renang di
Jatim. Apalagi seandainya atlit renang Indonesia ataupun Jatim bisa
memperoleh emas di Olympiade, pasti akan mengangkat citra olahraga ini
di tengah keterpurukan prestasi olahraga Indonesia di dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)